Banjir Air Tanah Pasca Siklon Tropis Seroja

Kupang, Nusantara3 | Siklon Tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur pada akhir bulan Maret dan awal bulan April lalu meninggalkan dampak bencana sekaligus pelajaran berharga bagi pengembangan ilmu hidrologi karst dan manajemen bencana. Wilayah-wilayah yang jarang mengalami bencana banjir atau bahkan dikenal sebagai wilayah yang mengalami bencana kekeringan ternyata mengalami banjir dengan karakter yang unik dari sisi ilmu hidrologi maupun geomorfologi. Kejadian banjir yang terjadi di lokasi yang sangat jarang mengalami banjir menyebabkan dampak sangat besar karena masyarakat tidak siap. Kondisi tersebut karena masyarakat tidak memiliki pengalaman bahkan tidak menyangka akan dilanda bencana banjir di lokasi yang sekian lama mereka tempati (Adji, dkk 2017).

Bibit siklon 99S yang diidentifikasi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika muncul pada tanggal 2 – 4 April 2021 berada di posisi Perairan Kepulauan Rote Nusa Tenggara Timur, 10.3oLS dan 123.5oBT (Sekitar 24 km sebelah barat daya Kupang) yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Seroja pada 5 April 2021 pada pukul 01.00 WIB. Posisi awal siklon ini terbentuk di Laut Sawu dengan kecepatan angin sekitar 40 knots (75 km/jam) dan menyebabkan berbagai bencana seperti tanah longsor, banjir, pohon tumbang dan angin ribut.

Siklon Tropis Seroja menyebabkan 19 kabupaten dan 1 kota terdampak, berdasarkan data (Riwu Kaho, 18 April 2021) jumlah jiwa yang meninggal adalah 181 jiwa, hilang 48 jiwa, luka – luka 225 jiwa, pengungsi 84.646 jiwa, rumah terdampak 74.629 unit, rumah rusak berat 15.201 unit, fasilitas umum 2.927 unit dan titik penampungan 73 lokasi yang tersebar di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Malaka, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur dan Manggarai. Hanya dua kabupaten yang tidak terdampak Siklon Tropis Seroja yakni Kabupaten Manggarai Barat dan Sumba Barat Daya.

Kawasan karst Kupang adalah salah satu kawasan karst yang dikenal sebagai wilayah rawan bencana kekeringan. Namun pasca Siklon Tropis Seroja kawasan karst disekitar Kupang bermunculan mata air air baru disekitaran Kota Kupang dan bahkan terbentuk sebuah danau di Kelurahan Sikumana Kecamatan Maulafa dengan luas hampir dua hektar. Selain itu ada juga ada cekungan air yang muncul di bekas bahan galian golongan C di Naioni Kota Kupang dengan kondisi air yang sangat jernih.

Secara morfologi dan hidrologi karst proses munculnya danau di Sikumana dan Naioni serta mata air disekitar Kota Kupang yang masih terus mengalir hingga saat ini adalah suatu siklus yang alami pada kawasan hidrologi karst, walaupun masyarakat sekitar mengatakan bahwa kejadian munculnya danau tersebut adalah yang pertama kali terjadi di wilayah mereka. Penyebab utama meluapnya air tersebut adalah terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang melebihi outlet pada air bawah tanah.

Aliran pada sistem hidrologi karst ketika intensitas hujan tinggi atau banjir pada kawasan karst pada umumnya terjadi melalui empat tipe 1) Imbuhan Allogenic adalah imbuhan air tanah atau sungai bawah tanah yang berasal dari non-karst, imbuhan ini biasanya masuk ke jaringan sistem sungai permukaan yang kemudian masuk ke sungai bawah tanah dan akan menjadi sungai yang menghilang dan biasanya catchment area atau daerah tangkapannya relatif luas, sementara mulut gua atau lembah buta masuknya air kapasitasnya sangat kecil sehingga terjadi banjir allogenic. 2) Limpasan Internal, kawasan karst biasanya selalu terbentuk cekungan tertutup dan terdapat ponor atau lubang pengatus pada tiap cekungan. Ketika hujan dengan intensitas tinggi doline atau cekungan tertutup akan mengatus air limpasan untuk dapat masuk pada sistem drainase bawah tanah, proses pengatusan ini yang kemudian akan menimbulkan overlandflow atau kelebihan kapasitas air pada lubang ponor dan terjadilah banjir limpasan interlppal. 3) Karst Window atau jendela karst, kondisi ini terjadi apabila adanya lubang yang ada disekitar goa bawah tanah yang dialiri sungai bawah tanah melebihi kapasitas pada aliran bawah tanah. Jendela karst atau lubang – lubang pada goa bawah tanah yang terdapat sungai bawah tanah akan bertambah besar seiring dengan erosi pada dinding goa atau atap goa sehingga tekanan air memaksa aliran air yang kapasitasnya sudah melebihi storage atau tempat penyimpanan air pada goa bawah tanah yang akan memunculkan aliran air melalui lubang – lubang tersebut. 4) Banjir Mata air, kondisi ini terjadi apabila intensitas hujan tinggi dengan runof atau limpasan permukaan menjadi lebih besar dan mata air tidak tidak dapat menampung aliran permukaan maka terjadi banjir dari mata air karst (Haryono,2017).

Berdasarkan sistem hidrologi karst dari interpretasi kasat mata pada aliran yang membentuk cekungan air atau masyarakat sekitar mengatakan timbulnya danau baru pasca Siklon Tropis Seroja dengan luas berkisar dua hektar yang alirannya muncul melalui tujuh titik mata air yang mengalir dengan debit yang berbeda – beda. Ada dua titik keluarnya mata air yang debitnya berkisar 100 hingga 200 lebih liter/detik dan kedalaman antara 5 hingga 7 meter. Hemat saya proses keluarnya air tersebut pada sistem hidrologi karst terjadi karena jendela karst atau lubang-lubang pada sekitar goa bawah tanah melebihi sungai bawah tanah sehingga kapasitas air pada goa bawah tanah meluap melalui lubang – lubang atau jendela karst di sekitaran goa tersebut. Jendela karst terus tererosi dan membentuk ponor pada goa dan menjadi lebih besar sehingga aliran air terus keluar melalui jendela karst.

Morfologi disekitar munculnya danau baru tersebut seperti cekungan karst yang igirnya terdapat mata air goa ‘sebutan warga sekitar’ yang tidak pernah kering sepanjang tahun atau perennial groundwater karst. Interpretasi sederhana adalah mataair goa tersebut meluap melalui ponor atau titik – titik lubang yang secara terus menerus mengatus atap dinding goa dan mengeluarkan air melalui tujuh titik ponor mata air tersebut. Imbuhan air pada danau baru di Sikumana bersifat autogenic dimana air yang meresap berasal dari air hujan yang mengalami infiltrasi melalui diaklas atau retakan – retakan pada kawasan karst yang kemudian secara gravitatif turun sampai pada sungai bawah tanah. Proses penyaringan oleh tanah, retakan dan rongga batuan menyebabkan air yang masuk ke sungai bawah tanah menjadi lebih jernih sehingga outlet pada tujuh titik mata air di danau baru Sikumana pun menjadi jernih, tawar dan tidak berbau.

Kawasan hidrologi karst timbulnya cekungan air di Naioni berbeda proses hidrologinya dengan danau baru di Sikumana. Munculnya cekungan air di Naioni pada bekas bahan galian C yang tergerus dan timbul lubang karst oleh aktifitas manusia sehingga mata air ini menerobos melalui ponor atau lubang bekas galian. Proses keluarnya air tersebut tidak akan berlangsung lama ketika debit air pada rongga karst terus berkurang dan lama kelamaan akan mengering. Namun proses penambangan galian C tersebut Pemerintah Kota wajib menertibkan karena apabila terus dilakukan penambangan pada kawasan karst akan merusak storage atau tempat penyimpanan air pada kawasan karst Kupang. Hal yang berbeda terjadi pada mata air disekitaran Kota Kupang yang terus membasahi badan jalan seperti mata air tedens yang terus meluap pasca Siklon Tropis Seroja. Kondisi ini menunjukkan bahwa Kota Kupang yang merupakan kawasan karst memiliki aquifer yang perlu dijaga sebagai storage karst.

Siklon Tropis Seroja telah meluluhlantakkan Nusa Tenggara Timur dengan bencana geometeorologi yang ditandai dengan intensitas hujan yang sangat tinggi, namun dibalik bencana alam ada rencana alam yang patut disyukuri karena ada siklus alam melalui proses pengisian kembali rongga – rongga karst air tanah khususnya di Kota Kupang yang sudah kekurangan air tanah sebelum siklon tropis.(*)

Penulis : Yefri Kuafeu (Alumni Magister Goegrafi UGM) 

Editor : (Sandro) 

Tinggalkan Balasan