Sinode GMIT Gelar Sidang Majelis Sinode Ke-47 di GMIT Maranatha Kupang

Kupang, Nusantara3.Com | Sidang Majelis Sinode GMIT ke-47 digelar Selasa (16/3/2021) hingga Rabu (17/3/2021). Menariknya, biasanya Sidang Majelis Sinode GMIT dilakukan di Kantor Sinode GMIT. Namun kali ini berlangsung di jemaat. Yang berkesempatan menjadi tuan rumah sidang adalah Jemaat GMIT Maranatha Oebufu.

Ketua Majelis Jemaat GMIT Maranatha Oebufu, Pdt. Desiana Rondo Effendy mengatakan ia dan jemaat Maranatha Oebufu bangga telah dipercayakan Sinode GMIT untuk menyelenggarakan acara tersebut.

Sidang yang digelar selama dua hari secara online ini diikuti Majelis Sinode, Ketua UPP dan BPP sinode dan 52 klasis di 5 teritori wilayah GMIT. Ia menambahkan, seluruh peserta sidang yang hadir telah mengikuti tes rapid Antigen pada H-1, Senin (15/3/2021) dan dinyatakan negatif Covid-19.

“44 orang yang mengikuti rapid dinyatakan hasilnya negatif, berarti kami siap untuk bersidang,” kata Pdt. Dessy.

Menurutnya, Sidang Majelis Sinode di jemaat ini merupakan tanda kehadiran gereja kepada jemaat pada masa pandemi Covid-19. Pada H-1 Sidang Majelis Sinode sempat berkunjung ke empat kepala keluarga Jemaat Maranatha Oebufu yang terdampak Covid-19. Selaku Ketua Majelis Jemaat, ia pun mengapresiasi hal tersebut sebagai motivasi dan spirit kepada jemaat.

“Kehadiran gereja pada masa pandemi menjadi kehadiran yang menghidupkan dan merawat kembali kehidupan itu dalam spirit bersama yaitu persekutuan,” ungkapnya.

Ketua Sinode GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon dalam sambutannya mengharapkan, dari persidangan ini Majelis Sinode GMIT dapat menerima masukan demi memperbaiki kinerja pelayanan gereja. Termasuk upaya penanggulangan pandemi Covid-19 di wilayah pelayanan Sinode GMIT yakni NTT dan NTB.

“Kita akan mengevaluasi hal-hal apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu ditingkatkan. Tapi juga untuk program pelayanan yang lain dalam hal persekutuan, kesaksian, pelayanan kasih, dalam hal ibadah dan penatalayanan gereja,” kata Pdt. Mery.

Sebagai Ketua Sinode GMIT, ia mengakui adanya pandemi Covid-19, banyak gereja ditutup dan jemaat beribadah dari rumah. Untuk itu, perlu penguatan dari gereja supaya jemaat mampu beribadah secara mandiri dari rumah.

“Jadi kita ingin lihat selama orang bergereja di rumah, pelayanan yang dilakukan oleh gereja itu bagaimana? Apakah sudah baik atau masih harus ditingkatkan. Kami menyadari, hal itu supaya keluarga-keluarga bisa mandiri dalam beribadah di rumah. Itu menjadi hal yang harus diperhatikan gereja,” ujarnya.

Pdt. Mery juga berharap, gereja perlu untuk mampu memanfaatkan teknologi digital agar jalannya ibadah dapat berjalan dalam situasi pandemi Covid-19. “Yang kedua ialah pelayanan digital. Karena sekarang gereja baik di kota maupun di desa harus belajar untuk memanfaatkan media digital, termasuk live streaming dan lain-lain itu, kapasitas yang juga mau ditingkatkan oleh gereja,” ungkapnya. (*)

Tinggalkan Balasan