LAKOAT KUJAWAS Mengadakan ‘LEADERSHIP AND GENDER TRAINING’ Kepada Orang-orang Muda Mollo

KAPAN, NUSANTARA3.COM | Lakoat Kujawas, sebuah komunitas warga yang mengintegrasikan perpustakaan warga, ruang arsip sejarah dan seni budaya Mollo dan kewirausahaan sosial melakukan kegiatan pelatihan kepimimpinan dan gender di Aula Paroki Santa Maria Immaculata Kapan, Jalan Kampung Baru Desa Taiftob, Kapan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) selama dua hari, Jumat dan Sabtu (18-19/09/2020).

Lakoat.Kujawas memandang bahwa perempuan dan pemuda memiliki aspirasi, kebutuhan dan
pengetahuan khas yang seringkali diabaikan, sehingga perlu mendorong lebih banyak tindakan nyata daripara pemangku kebijakan, tokoh adat, komunitas dan masyarakat umum untuk ikut menciptakan program-program yang memberikan keadilan dan kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan. Serta mendorong lahirnya gerakan inklusif yang memandang laki-laki dan perempuan, disabilitas dan minoritas sebagai manusia yang sama dan setara.

Informasi dan pengetahuan seperti ini bisa dipercepat distribusinya lewat berbagai aktivitas lokakarya, diskusi dan pelatihan. Program pelatihan bisa jadi memberikan kesempatan bagi orang muda masyarakat adat dalam mempersiapkan diri mereka sebagai pempimpin yang inklusif dimulai dari sekarang. Tujuan pelatihan ini Memberikan wawasan, pengetahuan dan keterampilan terkait kepemimpinan bagi orang muda dan konsep keadilan dan kesetaraan gender, mendorong lahir dan bertumbuhnya kememimpinan di Mollo yang inklusif.

Kegiatan pelatihan tersebut dipandu oleh Nona Heu (fasilitator utama) yang merupakan aktivis perempuan, peneliti isu gender dan kepimimpinan perempuan adat di Mollo, dan melibatkan 2 narasumber tamu yakni Maria Sanam (perwakilan perempuan adat Fatumnasi), Deci Nifu (perwakilan perempuan adat Tune). Peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan yakni terdiri dari 30 perwakilan orang muda adat dari beberapa wilayah adat di Mollo (Taiftob, Bonle’u, Mutis, Netpala, dan Ajaobaki. Terdapat juga 2 perwakilan tokoh agama (gereja Katolik dan Protestan), 2 perwakilan guru (SD dan SMP di Desa Taiftob), serta 1 petugas kesehatan desa.

Pelatihan kepimimpinan dan gender ini berlangsung menarik karena dalam pemaparan materi dikemas dengan sangat baik, membuka ruang diskusi kritis, proses belajar, dan juga belajar bersama seputar isu kepimimpinan dan gender di Mollo.
Dalam paparan materi, Nona Heu mengutarakan tentang persamaan antara perempuan dan laki-laki yakni memiliki hak dan kewajiban dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan agama.

Lebih lanjut Nona Heu menguraikan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan anggapan bahwa dalam budaya Mollo laki-laki diutamakan/diprioritaskan dibanding dengan perempuan dalam pendidikan, dan urusan adat. Pertanyaan kritis bagi kita semua yakni bagaimana caranya untuk meninggalkan anggapan tersebut? Bagaimana perempuan menduduki ruang kepimimpinan? Gender itu tidak alamih (non kodrat), tetapi peran sosial yang bergantung pada waktu dan situasi. Gender adalah karakteristik atau sifat yang dianggap melekat pada laki-laki dan perempuan, dan dibentuk secara budaya kata Nona Heu.

Cerita Mama Maria Sanam dan Mama Deci Nifu terkait perjuangan perempuan masyarakat adat Mollo dalam menolak tambang marmer Fatu Nausus. Nausus merupakan tempat bersejarah dari leluhur, batu marga, tempat ritual yang harus direbut kembali dari pemerintah Timor Tengah Selatan. “Nausus artinya memanggil, merangkul, dan menyusui. Fatu Nausus merupakan Fatu Kanaf, Hau Kanaf, dan Oe Kanaf, “kata Mama Maria.

“Batu ini sudah tidak utuh, salah satu yang paling mudah memahami isu lingkungan, alam diibaratkan seperti tubuh manusia. Batu itu tulang, air itu darah, tanah itu daging dan hutan itu sebagai rambut, kulit, dan paru-paru. Jadi merusak alam sama dengan meusak tubuh kita sendiri. Penolakan dilakukan dengan menenun massal di kawasan tambang marmer Fatu Nausus karena tenun menjadi identitas orang Timor, “ tuturnya.

Kenapa harus berjuang mempertahankan tempat tersebut? Dulunya para leluhur melakukan ritual atau doa di Nausus, masalah air juga karena debitnya air semakin berkurang, bahan untuk menenun juga diambil dari Nausus, “ kata Mama Deci.

Kenapa perempuan yang harus berdiri di barisan terdepan? Perempuan harus menimbang baik-baik, perempuan yang mengolah hasil sumberdaya alam, dan juga mencari nafkah, selain mengurus rumah tangga. Laki-laki sebagai pendorong di belakang, karena kalau laki-laki di depan maka akan adu fisik, “tutur Mama Maria dan Mama Deci. Dipertegas lagi oleh Nona Heu, ketika perempuan yang maju, semuanya menjadi satu. Perempuan bicara soal hutan, air, dan merawat kehidupan.

Berdasarkan cerita dan pengalaman di atas, menunjukan bahwa perempuan memiliki peran dan posisi yang strategis dalam pengambilan keputusan dalam kehidupan bermasyarakat.

Hari kedua (19/09), Nona Heu memaparkan materi terkait kepimimpinan perempuan. Sebagai pemantik diskusi, peserta mendiskusikan peran perempuan dan laki-laki yang dipandu oleh Nona Heu. Kesimpulan dari diskusi tersebut perempuan memiliki peran yang lebih besar dalam rumah tangga, dan juga peran produktif (bertani, berdagang, beternak kecil, nelayan, beternak besar), peran sosial politik kemasyarakatan (lembaga agama, ekonomi, politik, organisasi pemuda). Anggapan perempuan sebatas membantu bisa dibantah atau dipatahkan, jika hal tersebut dilihat dari waktu kerja dan aktivitas. Sebenarnya peran perempuan lebih besar jika dibandingkan dengan laki-laki, karena perempuan melakukan beban/peran lebih banyak.

Bentuk-bentuk ketidakadilan yakni marginalisasi, subkoordinasi, beban ganda, stereotype/pelabelan negatif, kekerasan. Marginalisasi adalah proses peminggiran berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan. Sebagai contoh, mengabaikan peran perempuan dalam urusan pangan. Upah perempuan lebih rendah dari laki-laki. Tidak ada program dan bantuan untuk perempuan. Subkoordinasi: penilaian atau anggapan bahwa peran yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain. misalnya laki-laki itu pemimpin, perempuan di dapur.

Stereotype/pelabelan negatif: pemberian label/cap kepada seseorang atau kelompok berdasarkan anggapan yang salah atau sesat. Contohnya perempuan tidak baik, dan lain-lain. Kekerasan merupakan tindakan kekerasan baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh jenis kelamin, keluarga, masyrakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya. Bentuk-bentuk ketidakadilan tersebut dipaparkan oleh Nona Heu.

Lebih lanjut Nona Heu, menguirakian tentang karakteristik kepimpinan perempuan yakni berorientasi pada pengembangan kesadaran kritis orang-orang yang dipimpin. Memanfaatkan sumberdaya organisasi/komunitas untuk tujuan menjamin keberlanjutan kehidupan seluruh perempuan di komunitas untuk jangka panjang. Mengutamakan hubungan yang inklusif (kebersamaan). Berorientasi pada proses bukan semata-mata hasil. Berorientasi pada penguatan akses dengan kontrol perempuan. Berorientasi pada pengambilan keputusan yang non hirarkhis. Tidak menggunakan cara-cara yang bersifat dominasi: subkoordinasi, diskriminasi, eksploitas. Laki-laki dianggap sebagai pemegang kekuasaan. Kepimimpinan yang baik melayani semua kepentingan (laki-laki, perempuan, tak berdaya-berdaya). Keuntungan secara politis, ekonomis, dan budaya dengan menyeimbangkan kewenangan antara kaum laki-laki dan perempuan.

Peserta pelatihan juga diberi kesempatan untuk berdiskusi dalam kelompok terkait apa yang ingin dipertahankan/diperjuangkan/dikembangkan sebagai perempuan Mollo dan bagian dari masyarakat adat di Mollo? Bagaimana dengan partisipasi perempuan? Keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan dan proses pembangunan, baik dalam hal ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Kepimimpinan perempuan di Mollo, mendapat tantangan dari keluarga yakni anggapan bahwa perempuan hanya mengurus rumah tangga, laki-laki lebih dominan, pelabelan, marginaliasi, kurang partisipasi, kurangnya dukungan, pendidikan minim, kemampuan yang kurang, kurang dukungan dari masyarakat. Sebenarnya perempuan memiliki peluang yang besar untuk jadi pemimpin di Mollo karena perempuan sebagai pemimpin yang stategis (berbagi, mengutamakan kebersamaan, demokrasi, akses dan kontrol)

Perlunya dukungan dari keluarga, kelompok, pemerintah dalam pendidikan prosesnya harus diutamakan yaitu dimulai dari sistem/program paket (sekolah-sekolah, tutor-tutor), kemampuan perlu dikembangkan, peningkatan kapasitas perempuan, serta berada dalam komunitas yang mendukung. Yang perlu dipertahankan, dikembangkan, diperjuangkan yakni pengembangan sanggar (tarian), menenun cerita sejarah, dan pangan lokal, serta pelestarian alam (fatu kanaf, hau kanaf, oe kanaf).

Hasil yang diharapkan yakni pengetahuan, keterampilan dan sikap dari seluruh peserta terkait isu kepemimpinan dan gender. Harapannya, akan muncul lebih banyak perempuan dan pemuda yang memiliki kapasitas kepemimpinan yang inklusif dalam pengelolaan sumber daya alam lokal mereka sehingga bersama dengan anggota masyarakat lainnya akan mengkatalisasi perubahan sosial dan keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan berkeadilan oleh masyarakat. (JN)

Tinggalkan Balasan